TELUK BAYUR di Padang adalah pelabuhan dengan pemandangan alam permai. Beribu kenangan orang setempat tertambat di situ, termasuk bagi kalangan berumur bagaimana dulu mereka mengawali perantauan ke luar pulau dari pelabuhan ini. Tak tahu kapan akan pulang, atau kemungkinan tak bakal kembali sama sekali.

Melewati Teluk Bayur menuju selatan akan sampai ke Painan, yang tengah berbenah mengembangkan pariwisata. Pantai Mandeh di situ luar biasa elok. Pulau besar kecil menahan gelombang Laut Selatan, menjadikan teluk setempat sebegitu tenang, dengan pemandangan gugusan pulau-pulau. Itulah Raja Ampat-nya Sumatera Barat.

Dengan pantai yang indah, ngarai, lembah, gunung, danau, Sumatera Barat adalah daerah yang lengkap. Semua potensi tersimpan di sini. Belum lagi makanannya. Orang tahu, rendang masuk daftar sebagai salah satu makanan terbaik di dunia.

Mengunjungi Sumatera Barat, kita akan menemukan, bukan rendang saja satu-satunya yang istimewa. Di Teluk Bungus antara Teluk Bayur dan Painan terdapat warung-warung menyajikan gulai kapalo lauak alias gulai kepala ikan. Ikan-ikan segar dari kawasan setempat membuat gulai di sini tiada duanya.

Lokalitas adalah masalah paling problematik dalam globalisasi. Dalam pemikiran mutakhir pihak-pihak yang peduli pada keberlangsungan (sustainability) dunia, penduduk Bumi hanya akan survive jika mampu mempertahankan kelokalannya. Sebaliknya, kualitas kehidupan maupun keberlangsungan hidup bakal merosot bahkan hancur jika keseragaman yang disetir oleh kapitalisme global dibiarkan berkembang tak terkendali.

Aspek paling utama dalam mempertahankan lokalitas adalah makanan. Kita harus dekat dengan asal-muasal bahan dasar makanan kita. Soalnya, dalam globalisasi, terutama masyarakat urban tak mengenali lagi asal-muasal apa yang terhidang di depan mereka. Para urbanit di kafe-kafe di Jakarta adakah peduli dari mana asal kopi yang ada di depannya? Dari Amerika? Italia? Survival masyarakat urban konon berada di tangan segelintir saja pemasok makanan, yang menguasai industri makanan di seluruh dunia.

Di sejumlah negara maju di Eropa, kesadaran mengenai lokalitas bahan dasar makanan dijadikan strategi untuk melawan kapitalisme global. Sebuah counter movement yang enak dan sehat. Enak, karena kita mengonsumsi bahan-bahan yang masih segar dari lingkungan sendiri. Sehat, karena dengan itu pula kita menjaga kualitas lingkungan kita.

Pengalaman inilah yang kita rasakan jika kita mengelilingi Sumatera Barat. Beras Solok, selain masyhur lewat lagu ”Barek Solok” sebagaimana populernya lagu ”Teluk Bayur”, memang sangat wangi, putih, enak.

Meski di luar Sumatera Barat dengan mudah kita jumpai restoran Padang, cita rasa masakan Padang di tempat asalnya berbeda dengan yang di luar daerah asal. Di daerah asalnya, makanan itu dibuat dengan bahan-bahan setempat.

Kelapa terbaik untuk membuat rendang berasal dari Pariaman. Cabai atau lado berasal dari Bukittinggi, Batusangkar, atau Payakumbuh. Di Payakumbuh, kami dibawa pengarang setempat Gus Tf Sakai menikmati baluak lado mudo (belut cabe muda) yang nikmat tiada tara.

Saya ke Padang karena undangan penari Ery Mefri dari sanggar tari Nan Jombang, yang saat ini tengah menyelenggarakan festival seni pertunjukan internasional bertajuk ”Padang Bagalanggang”.
Tak terbayangkan, dia membangun sanggar berkelas internasional, yang membuat para peserta banyak negara terkagum-kagum. Antusiasme penonton luar biasa, terdiri dari para seniman, mahasiswa, maupun khalayak sekitar dari anak-anak (dalam bahasa setempat disebut anak ketek) sampai ke kakek-nenek. Peserta dari Sumatera Barat menyajikan karya-karya luar biasa berbasis kesenian tradisional daerahnya.

Pada kesempatan lain, Ery menyajikan makanan, yakni rendang dan balado jengkol yang lezat. Buah jengkol berasal dari kebon di sanggar.

Inilah sebentuk gerakan lokalitas yang sangat utuh, untuk bagaimana kita bisa selamat dan punya tempat terhormat di tengah globalisasi.